KITA’lah Malaikat Penolong itu

17/03/2010 pada 9:58 am | Ditulis dalam Hands Of GOD, Hutang Kartu Kredit, Tragedi Kemanusiaan, Uncategorized | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , ,

Orang akan menTAHBISkan kita SUKSES dan BERHASIL apabila kita MAMPU MERUBAH orang lain (keluarga ) yang ter’puruk  untuk KELUAR dari DEPRESI dan FRUSTASI’nya, mengHANTARkannya meRASAkan BAHAGIA, NYAMAN, diHARGAi dan diHIDUPkan SEMANGATnya

……. Salam Sejahtera Sahabat user/netter seIndonesia

Coretan dan guratan statement diatas itu, tak lebih adalah ‘menyuarakan’ sebuah kondisi analogi di masyarakat yang penulis harapkan mampu memberikan kesegaran ‘nyawa baru‘ dan BELARASA yang disisi lain mungkin tidak pernah terFIKIR‘kan apalagi berTINDAK untuk MENOLONG sesama terhadap orang-orang ter’puruk, depresi, frustasi  akibat JERAT HUTANG hingga ter’tekan stress berat depresi, stress berkepanjangan

Memperhatikan fenomena pelik skala hutang Kartu Kredit, Personal Loans  beserta seluruh intensitasnya, sepertinya sudah menjadi ‘menu-menu nikmat pembuka‘  yang suka tidak suka, mau tidak mau, terima tidak terima menorehkan deretan fenomena ‘belenggu kesengsaraan’ dikomunitas masyarakat khususnya personal yang ‘tidak memiliki‘ dasar-dasar pengetahuan bagaimana memanage keuangan’nya dengan benar sehingga sampai pada sebuah titik,  hutang atau pinjaman itu berubah menjadi rantai belenggu yang sangat kuat mencekik

Berdiri sebagai pengusung statement “sebuah keSALAHAN DIRI‘kah semua itu ? Merupakan BUAH KEBODOHANkah semua itu ? terhadap mereka yang terKONDISIkan depresi, sters dan frustasi terjerat lilitan hutang  yang intensitasnya “sudah saatnya kita tengok dan kita dengar mereka untuk kemudian kita ANGKAT, dan kita URAI persoalan mereka

Apapun persoalan  yang menyeret diri Anda berada dalam kondisi-kondisi terbelit hutang pasti memiliki pemBELA‘an dimana kondisi itu memiliki kompensasi yang anda sendiri telah ambil keputusannya. Penulis tidak berhak patut menyalahkan kondisi Anda  meng’hutang, penulis tidak berdiri layaknya Hakim.  Dan presentasi ini juga BUKAN FORUM PENGADILAN yang meMAKSA‘kan  kondisi-kondisi anda yang tengah depresi, stres dan frustasi terjerat Hutang ini duduk untuk menjadi TERDAKWA yang sulit memPEROLEH pemBELA‘an.  Penulis mengHARGAi apapun latar belakang pemBELA‘an anda mengingat demikian kompleks’nya menjalani kehidupan ber’masyarakat

Maka  deretan-deretan benturan resiko mengantri didalam hari-hari yang mereka jalani.  Peristiwa-peristiwa ini menjadi  ‘menu gangguan’  bagi personal yang tengah dirundung depresi hutang seperti “dering telepon HP anda maupun telepon ke rumah mempertanyakan kapan pembayaran tagihan yang telah tertunggak“, plus statement-statement intimidasi ‘shock Teraphy’ yang  makin menyudutkan Anda “telepon ke Kantor tempat Anda bekerja sehingga membuat kredibilitas dan kinerja anda drop dipantau atasan“, terlebih ketika sudah sampai pada tahap  “didatangi kolektor yang menagih“.  Sungguh ironis sehingga fenomena ini menetaskan action-action yang dipandang oleh komunitas  ‘orang-orang yang tidak punya masalah hutang ‘ tergelitik men’tertawakan,  melecehkan bahkan berdiri sebagai pengusung statement-statement bernada meng’ADILI,  ini IRONIS

Lepas dari apapun pemahaman Anda, deskripsi beban hutang unsur ‘taste‘ akan lebih meresap dan merasuk didalam diri person yang mengalami’nya, ketimbang yang kondisinya TIDAK PUNYA Hutang.  TOLOK UKURnya JELAS ! Psikologi  yang terbias akan sangat dominan dan memiliki resultan yang sama,  yaitu depresi meskipun skala besaran hutang memiliki range pembeda. Stress dan depresi ini tak heran mulai mengikis ‘semangat juang‘ untuk menata hidup bahkan mungkin memicu hubungan keluarga yang ‘terpaksa’ harus dipisahkan. Kasus-kasus ini meretas di komunitas personal yang tengah depresi tak heran semangat juang yang tersisa dikumpulkan untuk menutup semua hutangnya dengan mengajukan aplikasi peminjaman kembali pada bank-bank yang diharapnya bisa ‘memiliki sisi manusianya‘ untuk menjawab persoalannya meskipun hutang kartu kredit dan lainnya masih belum selesai. Sebab KASUS INI umum karena ada personal yang berani bermain di lebih 4-5 kartu serta termasuk juga Personal Loans yang macet.  Dimana inti itikad person-person tersebut adalah meMINJAM untuk MENUTUP SEMUA kredit-kredit macetnya, lalu menCICIL dengan sesuai KEMAMPUANnya hanya SATU TAGIHAN saja. 

Analisi secara perspektif mengapa kasus “ITIKAD BAIK’ menutup semua kredit macet Kartu-kartu kredit maupun Personal Loans lainnya dengan MEMINJAM kembali ke pihak Bank ‘TIDAK DEAL’,  adalah   ekspektasi-ekspektasi  yang  (selalu)  bermuara pada seputar “ Bagaimana jika ini diloloskan, lalu macet lagi “, “ Mending jika dana pinjaman itu betul-betul dialokasikan untuk nutup semua kartu-kartu kredit/PL’nya.  Nah kalo tidak dibayarkan ?   macet lagi nantinya“, “Kasus kredit yang dilikinya saja sudah macet dan tertunggak,  bagaimana ini bisa dipercaya lagi dan statement-statement  pembunuh semangat l;ainnya yang refleksinya makin menambah volume beban psikis  komunitas yang tengah depresi, stres dan putus asa  terjerat lilitan hutang

Kasus yang TIDAK UMUM adalah menetapkan posisi kita sebagai JAWABan atas penCARIan jawaban yang mereka cari

Respon spontan yang terlontar ketika semua aplikasi dan semua upaya persuasif negosiasi membuahkan “hasil NIHIL“  adalah  KECEWA bahwa anda ‘merasa diTINGGALkan‘,  anda merasa FRUSTASI,  KECEWA  dengan rekan-rekan /relasi kantor anda dan bahkan  sang atasan anda  yang hanya bisa  MEMBERI NASEHAT saja -padahal secara finansial  mereka mampu memBANTU/meNOLONG anda,  lalu kemudian menyimpulkan  “tidak ada nurani kePEDULIAN‘ didalam diri analis bank  sementara anda secara prinsip  MAMPU MEMBAYAR TAGIHAN sesuai dengan gaji anda  demi terSELESAI’nya semua beban hutang-hutang yang menjerat anda,  dan anda merasa NYAMAN mempunyai KEWAJIBAN memBAYAR tagihan  dengan GAJI anda hanya satu bank saja.   Dimana saking frustasinya  sampai memunculkan rasa ‘semua jalan telah terTUTUP‘  bahkan telah melakukan doa (selaku orang yang ber’Iman)  namun tetap TIDAK ADA PERUBAHAN,  lalu kemudian protes meng’klaim “TUHAN sudah TIDAK diPIHAKnya lagi !”

Respon spontan diluar sana adalah (pastinya)  mentertawakan bahkan mengusung statement pemicu degradasi semangat seperti ini ” emangnya bank punya kerabat’mu,  punya orang tua’mu ” , “emang bank punya wewenang semudah dan segampang itu “,  “ emang bank dikiranya gampang bisa meloloskan semua aplikasi kredit “  dan statement-statement senada lainnya.   Semua itu penulsi sikapi dengan BIJAK,  bahwa statement-statement tadi ada benarnya,  mengingat system kinerja ATURAN yang diberlakukan pada lembaga bank.   Jika memang demikian statement-statement yang anda usung,   maka penulsi mengUBAH Paradigma’nya  mulai dari paragraf berikut ini.  MOHON diKAJI dengan keBENINGAN HATI

Penulis tidak men’Dramatisir di paragraf-paragraf selanjutnya, karena telah banyak respon-respon yang contens’nya menceritakan kasus-kasus kesengsaraan HUTANG Kartu Kredit maupun Personal Loans yang mereka alami pada situs/blog-blog yang menampung keluhan personal-personal/teman-teman ini dalam mencari ‘kelepasan’ dan ‘jalan keluar’ mengangkat beban hutang-hutangnya.  Penulis tidak menyalahkan jika depresi yang terakumulasi itu menetaskan nuansa ratapan, derita sengsara depresi yang berkepanjangan yang kita TIDAK MELIHAT dan kita TIDAK  menDENGAR

Stress

Tulisan/ungkapan depresi, stres dan frustasi terjerat hutang pada situs/blog-blog yang menghimpun persoalan mereka, sesungguhnya TIDAK BIJAK jika kita menganggap sebagai CERITA KONYOL KEMALANGAN,  bukan SEKEDAR SEBAGAI CONTENS-CONTENS pengisi respon komentar

Ungkapan/cerita kemelut mereka itu semata-mata merupakan SUARA HATI yang pada dasarnya  INGIN diDENGAR, ingin menDAPAT perTOLONGan dan pemBELA‘an  dari orang-orang yang berhati baik dan dermawan.  Tapi kasus keNYATA‘annya,  persoalan-persoalan kemelut mereka TIDAK diDENGARtidak diTOLONG dan TIDAK mendapat respon pemBELA’an

Sehingga secara implisit terkesan jelas disini bahwa,  situs/blog-blog  yang menghimpun menyuarakan segenap kesengsaraan  persoalan-persoalan klasik mereka ini hanyalah sebatas TRANSIT POINT.   Humaity action care inipun terkesan ENGGAN berpijak dan ber’interaksi disini

Respon yang terlontar secara spontan ketika semua aplikasi dan semua negosiasi membuahkan “hasil nol” adalah KECEWA bahwa anda merasa DITINGGALkan, KECEWA dengan rekan relasi kantor Anda yang hanya bisa memberi NASEHAT saja, tidak ada nurani kePEDULIAN di diri analyst bank sementara Anda secara prinsip MAMPU MEMBAYAR TAGIHAN dengan gaji Anda demi ter’SELESAInya Semua kredit Hutang Anda, dan anda nyaman hanya mempunyai tagihan hanya satu bank saja. Dan bahkan sampai telah memiliki rasa ” Semua jalan telah terTUTUP, bahkan telah melakukan berDOA selaku komunitas yang berIMAN namun tetap tidak ada perubahan, lalu protes  meng’claim TUHAN sudah TIDAK diPIHAKnya lagi

Respon spontan di luar sana  adalah men’tertawakan bahkan mengusung statement pemicu degradasi semangat ini ” Emangnya Bank punya kerabat’mu, punya orangtua’mu “,  “Emang bank punya wewenang semudah dan segampang itu“,  ” Emang Bank dikiranya bisa meloloskan semua aplikasi“  dan lain-lain statement senada lainnya.  Jika demikian ini statement-statement yang Anda usung, anda lebih baik tidak berada di situs/blog ini

Mengemas dan mengangkat empati sebagai BELARASA terhadap persoalan mereka inilah yang penulis sodorkan.  Sangat bijak jika kita tidak terpekur cuma bisa mengomentarihanya pintar ber’Argumen menDISKREDITkan yang refleksinya menambah deretan kesalahan dan kelemahan komunitas yang bukan seharusnya berada dikondisi seperti itu, sebagai penonton atau malah larut didalam penggiringan opini diskriminatif baik terhadap personal maupun kondisi yang melatarbelakanginya

Sebab kesengsaraan depresi dan stress mendera jiwa komunitas orang-orang yang terjerat hutang, kondisi psikologi’nya sudah tidak bakalan lagi ‘tersulut‘ semangatnya terhadap situs-situs/blog-blog yang  CONTENSnya hanya berputar-putar pada nasehat, tips-tips menggunakan kartu kredit, trik solusi untuk terhindar dari jeratan kartu kredit dan bla..bla..bla statement POSITIF membangun motivasi lainnya, karena itu akan membuatnya makin tersudut terHAKIMi pada rasa yang dimata orang lain SALAH

Yang bisa kembali menyulut  SEMANGATnya adalah BUKAN PADA contens-contens yang hanya berputar-putar pada NASEHAT,  argumen-argumen baik itu TIPs maupun TRIK-TRIK skala penggunaan Kartu Kredit.  JAWABAN hanya 1 (satu) yaitu DIBAYAR.

Semangat HIDUP itu muncuk adalah saat MENEMUKAN ORANG-ORANG yang berHATI BAIK yang mereka anggap TEPAT untuk bisa MENOLONG MEMBEBASKAN HUTANG KARTU KEDITnya atau PERSONAL LOANS’nya,  TANPA berLAMA-LAMA dan BERDIRI PENUH diATAS KEPEDULIAN dan EMPATY yang dalam

MUSTAHIL’kah ?? Berani MENYANGKAL‘kah anda jika essensi prioritas kePEDULIAN,  keIKHLASAN dan EMPATY itu adalah ANUGERAH dari sebanyak 20 juta user/nerter di Indonesia itu adalah sebuah MUJIZAT ditengah kePUTUS ASA’an.   Artinya sebanyak 20 juta user/netter tersebut memPOSISIkan diri sebagai jawaban atas persoalan mereka,  melakukan gerakan DONASI dengan nominal maksimum seribu rupiah.

RENUNGKAN dan  MENYANGKAL’kah jika hal itu sangat BISA DILAKUKAN oleh setiap user/netter.   Dan BUKAN malah me’MENTAH‘kan,  me’MATAH‘kan dengan statement “jangan sok moralis’lah !! “,   “ketahuilah bung, seribu rupiah bagi saya itu masih bisa beli 1 gorengan dan satu minuman mineral buat isi perut

Stress‘Nyala semangat motivasi didalam diri mereka sudah PADAM. Hidup seperti’nya tidak ada geliat ekspresi keriangan, sukacita, senyum kebebasan kelegaan sirna meskipun duduk bersama orang tercinta.  Fenomena Hutang yang bagaikan lengan gurita seakan-akan rantai yang terlalu kuat mengikat itu memisahkan keBAHAGIA‘an dari jiwa mereka, bahkan tidak jarang  person-person itu harus meMAIN’kan peranlari menjadi buron‘, ‘mengHINDAR‘,  ‘kucing-kucingan dengan kolektor‘   dan menghilang dari rumahnya mengingat kondisinya  sudah “Mau diJAWAB dengan APA lagi …. untuk HIDUP sehari-hari saja KURANG,  apalagi diTEKAN HARUS  BAYAR  Tagihan ….Bayar…Bayar  dan  HARUS BAYAR  “, lebih getirnya ‘terpaksa‘ harus melepaskan pekerjaan dikantornya atau  kondisinya  sebagai kerja tidak tetap.  Kondisi yang penulis sebutkan terakhir ini,  masih  di’Untung’kan,  karena  ada penghasilan,  meskipun pendapatan penghasilan itu untuk tagihan yang tertunggak saja tidak terJAWAB,  termasuk kebutuhan VITAL keluarga

Masih berdiri sebagai pengusung statement “aaahhh ! BIAR’kan saja !”  atau “Itu SALAH’nya sendiri !” dan langsung sepakat men’diklare ‘sebuah keSALAHAN DIRI’kah semua itu ? merupakan buah keBODOHAN’kah semua itu ?  terhadap mereka yang terKONDISIkan depresi, stres dan frustasi terJERAT lilitan Hutang yang intensitasnya “sudah saatnya kita tengok dan kita dengar,  untuk kemudian kita ANGKATkita URAI perSOALan mereka

Berdiri sebagai pengusung yang ‘memBIARkan‘ dan ‘menonton‘ kondisi-kondisi mereka tetap terTEKAN depresi, ataukah berada sebagai personal yang meMILIKI hati yang berKELIMPAHAN dengan empaty, Bijak dan KASIH mengulurkan tangan, menetaskan mujizat yang selama ini tidak menyentuh mereka bahkan mujizat penolong itu diclaim “sudah TIDAK ADA“  lagi dipihak mereka mengingat kondisi keterpurukan ekonomi keuangan, gagal merasa diperdaya ikut program-program cari duit jutaan dengan cepat dan instans dengan InterNET -dimana konsep classic‘nya adalah ” (harapan) duit  puluhan juta yang terkumpul hasil ber’Online BISNIS, kelak akan bisa menyelesaikan semua kemelut hutang-hutangnya”

Terlalu berlebihan’kah jika penulis mencoba meng’hembuskan psikologi-psikologi yang selalu membelenggu bahkan telah menjadi ‘ritme‘ stress kesengsaraan disetiap penghujung bulan melunasi tagihan-tagihan yang menunggak/membengkak  baik itu Kartu kredit ataupun Persolan Loans – dimana asumsi sederhananya gaji anda HABIS hanya untuk melunasi hutang, kewajiban keluarga nol…  TERUS  SAMPAI  KAPAN’kah  berAKHIRnya !!

Terlalu berlebihan’kah penulis untuk mencoba meng’hembuskan psikologi-psikologi kegeraman, umpatan serapah keTIDAK BERDAYAAN untuk claim menyuarakan depresinya atau larut  ‘menyalahkan diri sendiri‘,  meratap getir ‘meng’hakimi kebodohan diri sendiri beserta kondisi-kondisi’nya‘ atau bahkan ‘menyalahkan orang lain yang tidak perduli akan kesengsaraan depresi’nya, ketidakberdayaan TIDAK ADA komunitas lain yang memBELA’nya‘  termasuk berani menyalahkan me’RASA TUHAN yang tidak berPIHAK pada dirinya

Konteks ke’terpurukan, penderitaan ataupun kesengsara’an yang menekan hidup manusia dimana ter’implisit disana list persoalan dan kesusahan yang sangat kompleks seperti,  penderitaan sakit/penyakit yang memBUTUHkan uluran tangan pihak lain untuk peduli membiayai penyembuhan’nya, penderitaan masuk ter’seleksi kena musibah/bencana alamsengsara keTIDAKADILAN Hukum yang diskriminatif serta penderitaan sengsara lainnya termasuk sengsara depresi terjerat hutang-hutang,  masing-masing menempati porsi dan skala penentu di benak manusia (orang-orang) yang ambil bagian turut campur tangan di area humanity care action sebagai bentuk aksi mengurai penderitaan dan sengsara sesama

StressMau tidak mau,  terima tidak terima,  suka tidak suka,  (kita) harus terima kenyataan bahwa barometer skala penentu humanity care action priority lebih banyak berPIJAK pada area kemalangan/kesengsaraan/penderitaan sakit penyakit, belarasa terhadap orang-orang yang terDiskriminasi Ketidakadilan hukum dan petaka masuk ‘seleksi‘ kena musibah/bencana alam,  ketimbang menghampiri membantu komunitas (orang-orang) yang sengsara depresi tercekik hutang kartu-kartu kredit / Personal Loans yang macet maupun persoalan hutang lainnya

Komunitas (orang-orang) yang sengsara depresi terjerat hutang-hutang terkesan ‘luput‘ dan sepertinya terbaca humanity care actions enggan berpijak disini untuk menjangkau membantu melepaskan dan mengangkat persoalan hutang-hutang mereka. Komunitas ini jelas ter’KALAHkan oleh visualisasi (media cetak/televisi) atas kesusahan, penderitaan kesengsaraan sakit penyakit, korban ketidak adilan hukum yang diskrimatif, korban papa ter’seleksi masuk kena bencana alam yang ternyata lebih ‘match‘  pada unsur rasa ibakeprihatinansolidaritas belarasa kemanusiaan,  sehingga hal ini secara perspektif menegaskan bahwa strata humanity care action diarea ini menepati tingkatan lebih tinggi ketimbang persoalan memBANTU menJAWAB mengurai sengsara depresi di komunitas (orang-orang) yang terjerat hutang dan malah di’tahbiskan sebagai best action General ketimbang mengambil peranan untuk ambil bagian sebagai Hands of God mengurai sengsara depresi orang-orang yang terjerat hutang

Pada hakekatnya kapasitas unsur kesusahan, penderitaankesengsaraan depresi yang membelenggu manusia (orang-orang)  memiliki tendensi takaran yang identik,  yaitu sama-sama tidak dapat meRASAkan keLEGA‘an, keNYAMAN‘an dan keBAHAGIA‘an hidup

Skala pemBEDAnya adalah (jika) dikomunitas orang-orang (manusia)  yang kesusahan, penderitaan kesengsaraan terseleksi kena bencana/musibah, ketidakadilan hukum yang diskriminatifsakit/penyakit  yang penyembuhannya memBUTUHkan belarasa masyarakat -karena ketidakmampuan biaya,  seluruhnya telah tervisualisasi dan menDUKUNG BUKTI otentik dimana seluruh masyarakat Indonesia (bahkan dunia) menyaksikannya bahwa kesengsaraan mereka itu benar-benar terkondisi hingga tidak sedikit mereka kehilangan rumah, harta benda bahkan orang-orang tercintanya

Sementara di komunitas (orang-orang) yang sengsara depresi kehilangan kebahagiaan, kenyamanan hidup karena dibelenggu sengsara hutang-hutang tidak terLIHAT dan tidak terDENGAR, bahkan tidak sedikit juga mereka terkondisikan disita harta bendanya termasuk kehilangan rumah tempat tinggalnya

StressMaka mengalirkan ‘taste‘  iba kepedulian lebih mudah terakumulasi diarea kesengsaraan, penderitaan dan depresi yang telah ter’VISUALISASI dan menDUKUNG BUKTI otentik terlebih lagi penderitaan,  kesengsaraan dan depressi itu ditahbiskan sebagai ‘Tragedi Kemanusiaan‘.   Sementara komunitas orang-orang yang sengsara, depresi terJERAT hutang-hutang terELIMINASI,  LUPUT.  Tak heran mereka kemudian memblokir diri mengusung statement ” berHutang itu kamu sendiri yang memBUAT ! tidak identik dengan  Musibah/Bencana Alam “,  ” berHutang itu adalah hasil dari akibat yang kamu ikrarkan dimasa lalu, maka suka tidak suka anda harus terima buahnya”,  ” Hutang Itu perSOALan Pribadimu, maka selesaikan sendiri !” dan statement-statement  bernada melemahkan  lainnya

NEXT,  Penulis mencoba mengangkat Fenomena ini dimana tingkatan humanity care action itu layak berpijak juga di komunitas orang-orang yang tengah menderita sengsara dan depresi terjerat hutang-hutang dan bukan malah  diperMALUkan. Persoalan yang menjadi pertanyaan adalah ” Kenapa dan mengapa MEMBANTU, MENOLONG sesama yang sengsara depresi dirantai persoalan manusiawi harus PILIH  MEMILIH ?

….  Sahabat user/netter semua komunitas se Indonesia

Mulai dari paragraf ini, penulis akan membawa anda pada sebuah fenomena dimana kita sepertinya harus membuang sikapmeng’ADILI‘, ‘mengHAKIMI’, ‘memBIARkan‘, ‘menDIAMkan’,  ‘meNUTUP MATA‘,  terhadap kesengsaraan penderitaan  teman-teman yang depresi sehingga  kehilangan keNYAMANan, keBAHAGIA’an hidup karena terJerat Hutang-hutang Kartu Kredit,  Personal Loans dan hutang lainnya. Bukan meNABURkan perDEBATan-perDEBATan klasik  seputar ‘ KredibilitaskeROHANIAN seseorangBAIK atau TIDAK BAIK, seputarLayak  atau  TIDAK LAYAK konsep berbuat keBAIKan bagi orang lain‘  perbuatan MENOLONG  menJAWAB perSOALAN inidi’Implementasi’kanmengURAI  dilema  HUTANG

Penulis berPIJAK dikomunitas ini dan mengHEMBUSkan perJUANGan teman-teman yang tengah berTAHAN untuk SURVIVE hidup dengan gaji sisa bahkan minus. Ini tragis sekali, maka mujizat untuk meng’halau ratapan, keputus-asa’an serta depresi yang kelak menyapa dihari-hari lanjut mereka, sangat BIJAK jika di’Implementasikan menjangkau bagian yang kerap ‘luput’ dari jangkauan orang-orang (komunitas) yang terPanggil menjadi perantara per’panjangan Hand Of GOD ini

Nyawa SEMANGAT hidup teman-teman dikomunitas ini adalah “LEPAS dari JERAT HUTANG !” dan ini menJADI keKUATan penulis.  Fenomena kondisi-kondisi ironis penulis tangkap dari curahan-curahan penderitaan dan kesengsaraan teman-teman melalui situs/blog-blog yang menampung persoalan-persoalan mereka terJERAT Hutang dan meng’isyaratkan bahwa tulisan mereka adalah mewakili kondisi yang bahkan tidak sedikit telah sampai pada fase tragedi kemanusia’an.  Ini mengundang empaty yang dalam dan  bukan curahan/ungkapan yang meMALUkan, ataupun  bacaan cerita konyol

Orang-orang yang telah ambil bagian ber’kontribusi sebagai ‘dermawan’ ‘dermawati’ pada kondisi-kondisi tragedi kemanusiaan atas komunitas orang-orang yang menderita sakit/penyakit, kesengsaraan penderitaan masuk seleksi musibah/bencana alam pada kurun dekade tahun-tahun belakangan ini, telah menorehkan nama-nama yang penulis aklamasi‘kan sebagai Malaikat-Malaikat Penolong

Maka satukan persepsi, meskipun manusia bukan malaikat penolong tapi SIFAT-SIFAT MENOLONG itu adalah ‘Mujizat‘ yang setiap manusia MAMPU men’duplikasikan‘nya. Mujizat itu sudah ada dan sudah terjadi ! PerTOLONGan mereka telah diTULIS  diPrasasti KEPEDULIAN BelaRasa. Nama-nama mereka plus nominal bantuan sudah terPAHAT sebagai bingkai penyembuh untuk penderitaan orang-orang yang menderita sakit/penyakit (membutuhkan biaya pegobatan),  untuk orang-orang yang sengsara menderita diskriminasi ketidakadilan hukum, untuk orang-orang yang kesusahan menderita sengsara terkena Musibah/Bencana Alam di Indonesia bahkan dunia pada kurun delade tahun-tahun belakangan ini

Track sejarah belarasa dan empaty komunitas yang menjadi perpanjangan Hands of GOD telah melawat mereka TANPA MEMANDANG, MENILAI ataupun MENIMBANG Bersih atau Kotor ‘kadar’ tingkat keROKHANI’an sebagai ‘tingkat kelayakan’  komunitas yang tengah sangat memerlukan ‘sentuhan‘ kebaikan dari malaikat penolong itu

Semoga statement ini tidak menjadi perhentian  ‘Laju perTOLONGan‘ lanjutan perpanjangan Hands of God kiprah para Malaikat Penolong itu. Ketika anakku bertanya “Apa yang sudah ayah/ibu perbuat dengan uang kita ketika bencana tragedi kemanusiaan itu terjadi ?”. Mereka akan menjawab “Ayah atau Ibu bersama-sama dengan orang-orang lain sudah meLAKUKAN hal-hal yang sungguh Luar Biasa yang  memang seHARUSnya diLAKUkan

…. Sahabat user/netter komunitas yang terPANGGIL untuk ambil bagian sebagai perpanjangan Hand Of GOD

o.  Ketika nuranimu terpanggil menyaksikan keterpurukan, penderitaan, sengsara depresi terhadap komunitas orang-orang sakit/penyakit yang memerlukan donatur untuk meng’entaskan, membiayai penyembuhan penyakitnya, namamu ada disana bersama puluhan bahkan ratusan orang yang ambil bagian sebagai penolong.  Salahkah penulis menyebut komunitas yang ambil bagian sebagai donatur ini adalah wujud Hand Of GOD, mereka’lah Malaikat Penolong itu

ilustrasio.  Ketika nuranimu terpanggil menyaksikan keterpurukan, penderitaan, sengsara depresi terhadap komunitas orang-orang yang masuk seleksi mengalami musibah/bencana alam memerlukan bantuan kemanusiaan untuk mengangkat memulihkan mereka, namamu ada disana bersama puluhan bahkan ratusan orang yang ambil bagian sebagai penolong. Salahkah penulis menyebut komunitas yang ambil bagian sebagai donatur ini adalah wujud Hand Of GOD, mereka’lah Malaikat Penolong itu

o.  Ketika nuranimu terpanggil menyaksikan keterpurukan, penderitaan, sengsara depresi terhadap komunitas orang-orang  yang teraniaya diskriminasi Hukum/keADILan  Hukum,  namamu ada disana bersama puluhan bahkan ratusan orang yang ambil bagian sebagai penolong mengangkat belarasa.  Salahkah penulis menyebut komunitas yang ambil bagian sebagai donatur ini adalah wujud Hand Of GOD, mereka’lah Malaikat Penolong itu

o.  Ketika nuranimu terpanggil menyaksikan keterpurukan, penderitaan, sengsara depresi terhadap komunitas orang-orang  terjerat Kartu Kredit atau Personal Loans dimana hutang-hutang tersebut tendensi’nya telah masuk fase tragedi kemanusiaan, dan sangat memerlukan donatur untuk mengAKHIRI kemelut hutangnya untuk bisa kembali semangat berdiri tegak, Salahkah penulis menyebut komunitas yang ambil bagian sebagai donatur ini adalah wujud Hand Of GOD,  mereka’lah Malaikat Penolong itu

IlustrasiMeskipun unsur kesengsaraan, penderitaan dan depresi dan seluruh persoalannya pada dasarnya ‘kompleks‘ tidak sebatas hanya diarea persoalan menjawab Hutang, dimana diluar itu ter’implisit list derita kemiskinan, derita pelecehan RAS, kegagalan dalam  ber’OnlineBISNIS cara Jadi Jutawan/Milyuner mendadak dan penderitaan kesengsaraan lainnya, Penulis tergerak untuk mengangkat, menyuarakan dan mengAKOMODIR range persoalan Hutang Kartu Kredit/Personal Loans yang geliatnya begitu fenomenal dan sudah mencapai peak level yang memprihatinkan

Penulis berusaha menyuarakan sebuah sisi kemanusiaan yang tenggelam dan ter’ABAI‘kan sementara kondisi tersebut NYATA dan ber’SANDING sehari-hari dikehidupan masyarakat. Buta’kah atau sengaja menutup mata‘kah mereka ?

Sahabat user/netter komunitas yang tengah dirundung kemelut hutang

Mengamati pergerakan animo respon ‘menggapai’ pertolongan komunitas yang sengsara depresi terjerat Hutang Kartu Kredit dan Personal Loans yang penulis baca dan temukan tulisan/ungkapan mereka di situs/blog-blog lain, Penulis ber’inisiatif menjembatani Anda supaya Hand of GOD dari Orang-orang yang berHATI Malaikat Penolong  itu ter’lahir dan meng’hampirimengangkat kesengsaraan depresi melepaskan jeratan hutang namun dengan koridor komitmen-komitmen dan menjadi kesepakatan yang dijelaskan melalui e-mail

VISI Penulis adalah seluruh data person komunitas yang tengah kesusahan,sengsara depresi berat terJERAT Hutang yang masuk terDATA, idealnya tidak ada seleksi untuk ter’eliminasi. Komunitas Penolong akan ber’pijak pada fakta Data keBENARan, tanpa memandang kesalahan-kesalahan apalagi unsur SARA.  Refleksi ideal terkumpulnya donatur/kepedulian komunitas Penolong itu adalah identik seperti pada tindakan respon kepedulian MENOLONG pada skala membantu biaya pengobatan komunitas yang sakit/penyakitnya memBUTUHkan tindakan medis diatas skala biasa, kepedulian donasi terhadap komunitas yang ter’Diskriminasi keTidak Adilan Hukum, kepedulian donasi terhadap komunitas musibah/bencana Alam, yaitu langsung berTINDAK dengan Hati tanpa di komando panggilan Nurani ini

Terhadap respon bergulirnya situs/blog ini, arahan-arahan dan sasaran telah penulis presentasikan  dimana respon animo yang lahir kelak nantinya tidak menutup kemungkinan  akan menuai persepsi yang apapun makna bahasanya,  tak lebih muatannya adalah MENDUKUNG ataukah MEMATAHkan peranan orang-orang terPANGGIL wujud dari Hand Of GOD ini ber’Intervensi mengurai fenomena krusial dikomunitas yang kesusahan, sengsara depresi dan stress terjerat kemelut hutang

Apapun feedback resultan yang kelak Penulis terima dari Presentasi ini pastilah akan menuai berbagai argumen bahkan (mungkin) tertawa geli, menganggap konyol, terpingkal-pingkal sebagai makna kesimpulan akhir merangkum isi presentasi situs/blog ini. Penulis tetap menghargai tanggapan tawa Anda bahkan mungkin men’diskriminasi essensi situs/blog ini. Atau melontarkan statement ini “ala, ngapain ngemis-ngemis repot-repot cari sensasi doang !“, “Untuk diri sendiri saja kekurangan, apalagi donaturin orang, ngga lah !!“,, “aduh berkaca dong !, mbantu korban bencana lebih mulia, kalo mbantu donaturin untuk bayar hutang  hahahaha.. itu lucu konyol nggak akan ada yang bakal mau, percuma..!”

Sisi psikologi emosional orang-orang yang terPANGGIL Nurani’nya untuk ambil bagian ber’Kontribusi sebagai perPanjangan Hand Of GOD, yang jelas tentunya masih ber’orientasi mem’pertanya’kan “SIAPA” dan “KREDIBILITAS Penulis sejauh apa sih ? ” untuk itu informasi about me lebih terkorelasi kepada komunitas orang-orang yang meMUTUSkan mau ambil bagian sebagai perpanjangan Hand of GOD.  SANGAT diMAKLUMi, untuk itu penulis akan respon via e-mail

Analisa pengamatan penulis menanggapi secara arif (sebagai) studi kasus komunitas orang-orang yang terJERAT hutang-hutang Kartu Kredit/Personal Loans tak lebih dan tak kurang mengemas psikologi-psikologi seperti berikut :

o.  Kesusahan, kebingungan, kesengsaraan, stress.yang berlanjut ketahap memicu depresi, dimana penghasilan (gaji) selalu dialokasi untuk bayar tagihan atau tunggakan yang bunga berbunga terus menerus Kartu Kredit atau Personal Loans. Selesai membayar tagihan (baik itu minimum atau seada’nya) di Kartu Kredit, bingung bayar dengan apa Personal Loans’nya. Terus sampai kapan selesainya ?

oo.  Tekanan depresi komunitas orang-orang yang terJERAT hutang Kartu Kredit/Personal Loans akan semakin dalam jika terkondisi : a.  Usaha yang menjadi urat nadi kehidupannya BANGKRUT –sementara kartu kredit/personal loans masih belum selesai. b.  Terkena masuk seleksi PHK –sementara  kartu kredit/personal loans belum selesai dan masih menggantung

Bersyukur untuk keDUA kondisi tersebut diatas, jika langkah-langkah persuasive sebagai ‘pencapai solusi terbaik’ dengan pihak bank penerbit kartu-kartu yang terhutang, disetujui. Umumnya solusi akhir setelah melalui birokrasi yang tak menutup adanya rasa ‘sakit’, ‘perih’, ‘kecewa dianggap bohong’ terpahat didalam diri, adalah bentuk Cicilan Tetap Berjangka. Konsep dasarnya TETAP menCICIL meskipun sudah tidak ada penghasilan

Tragedi kemanusiaan terjadi disini, jika telah diberikan solusi itu tetapi tetap pihak terHutang tidak bisa membayar, maka langkah akhir biasanya PENYITAAN HARTA BENDA. Maka ini menjadi Obyek Tontonan yang seharusnya kita tidak berada sebagai pelaku

Sehingga patut di kategorikan berLEBIHAN’kah jika penulis meng’hembuskan psikologi-psikologi yang menetaskan kronologi tak lebih seperti yang telah penulis paparkan diparagraf-paragraf diatas. Bank tidak mungkin berMURAH HATI mengHAPUS  HUTANG-HUTANG anda dengan “NOL” -NGGA USAH BAYAR LAGI karena ANDA SUDAH BANGKRUT ataupun karena ANDA TELAH DIPHK. Penulis yakin anda akan geli dan terpingkal jika  “Hari geneee ada Bank yang mau mengHAPUS hutang Kartu Kredit dengan DAMAI, Habis Perkara !! Hahahaha  mimpi kaleeee !! “

Maka untuk itu sepakatkah Anda turut mem’proklamirkan lantang statement “Mustahil, Buang-buang energi, Ngga bakalan berHASIL, Percuma ‘lah  cari-cari sensasi doang” terhadap essensi contens Situs/Blog ini,  Ataukah sebaliknya mengusung empaty dan belarasa atas sebuah komunitas yang tengah menanti ‘mujizat’ merasakan perpanjangan HAND OF GOD

Kita dihadapkan pada PILIHAN yang setiap personal boleh ‘MENOLAK’ yaitu “Jika kita bisa berkata TUHAN memiliki CARA untuk mengangkat beban persoalan kesengsaraan stress dan depresi manusia, untuk itu maukah kita ambil bagian memposisikan mencatat diri sebagai Cara TUHAN tersebut”.  Sekali lagi Kita memiliki pilihan untuk MENOLAK atau memutuskan AMBIL BAGIAN

.

.

.

.

.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.